Parepare — Pemerintah Kota Parepare bersama masyarakat menggelar Shalat Istisqa di Parepare sebagai ikhtiar memohon rahmat dan turunnya hujan di tengah kondisi kemarau panjang yang turut meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Jumat (4/9/2026).
Pelaksanaan shalat berlangsung di Lapangan Andi Makkasau, Jalan Bau Massepe, Kelurahan Mallusetasi, Kecamatan Ujung, Kota Parepare, mulai pukul 06.30 WITA. Kegiatan tersebut melibatkan berbagai unsur pemerintahan, aparat keamanan, organisasi masyarakat, pelajar, hingga masyarakat.
Wali Kota Parepare H. Tasming Hamid mengatakan kegiatan tersebut menjadi bentuk ikhtiar bersama untuk menghadapi kondisi kemarau yang sedang berlangsung.
“Hari ini kita bersama Kapolres Parepare Akbp Phunky Mahendra Borniawan, S.I.K., M.H., M.I.K beserta Forkopimda lainnya, para instansi vertikal, para PJU Polres Parepare dan Kodim 1405/Parepare, para pimpinan OPD tingkat Kota Parepare, para ketua organisasi masyarakat dan FKUB Kota Parepare, para camat dan lurah se-Kota Parepare, para perwakilan siswa/pelajar se-Kota Parepare dan seluruh elemen masyarakat melaksanakan Shalat Istisqa,” kata Tasming Hamid.
Shalat Istisqa Digelar di Lapangan Andi Makkasau
Rangkaian Shalat Istisqa di Parepare diawali dengan sambutan Wali Kota Parepare. Setelah itu, Ustadz Hasaniddin, S.Sos., menyampaikan tata cara pelaksanaan Shalat Istisqa kepada peserta.
Selanjutnya, shalat dipimpin oleh Imam H. Sudirman Semma. Setelah pelaksanaan shalat, kegiatan dilanjutkan dengan khutbah dan doa bersama yang dipimpin Prof. Dr. H. Hannani, M.Ag.
Suasana khidmat terlihat dalam kegiatan tersebut. Pemerintah dan masyarakat tidak hanya berkumpul untuk menjalankan ibadah, tetapi juga menyampaikan harapan agar kondisi kemarau segera berakhir dan hujan kembali turun.
Kemarau panjang menjadi perhatian karena kondisi lingkungan yang semakin kering dapat meningkatkan potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Karena itu, pemerintah menilai upaya menghadapi situasi tersebut membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.
Pemkot Parepare Ajak Masyarakat Hadapi Kemarau Bersama
Tasming Hamid menjelaskan, pelaksanaan Shalat Istisqa merupakan salah satu bentuk ikhtiar pemerintah bersama masyarakat dalam menghadapi kemarau panjang.
Menurut dia, kondisi tersebut tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan masyarakat terhadap air, tetapi juga berdampak terhadap lingkungan. Cuaca kering dapat membuat vegetasi lebih mudah terbakar sehingga risiko karhutla perlu mendapat perhatian.
Pemerintah bersama aparat dan masyarakat juga terus melakukan berbagai langkah untuk mengantisipasi serta menangani potensi kebakaran di lapangan.
Namun, menurut Tasming, upaya tersebut perlu diiringi dengan doa sebagai bentuk pengharapan kepada Allah SWT agar diberikan rahmat berupa turunnya hujan.
“Selain melakukan berbagai upaya penanganan karhutla di lapangan, pemerintah bersama masyarakat juga melakukan ikhtiar melalui doa agar Allah SWT memberikan rahmat berupa turunnya hujan,” ujarnya.
Ia berharap momentum tersebut tidak berhenti pada pelaksanaan shalat semata. Sebaliknya, masyarakat diharapkan terus meningkatkan kepedulian terhadap kondisi lingkungan di tengah kemarau.
Orang Tua dan Pelajar Diajak Perkuat Kepedulian Lingkungan
Usai pelaksanaan Shalat Istisqa, Wali Kota Parepare juga mengajak orang tua, guru, pondok pesantren, madrasah, dan sekolah untuk terus memanjatkan doa serta menanamkan kepedulian terhadap lingkungan.
Menurut dia, pendidikan mengenai kepedulian lingkungan perlu dilakukan secara berkelanjutan. Anak-anak dan pelajar dapat menjadi bagian penting dalam membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga alam.
Ajakan tersebut juga menjadi bagian dari upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan yang membutuhkan kesadaran dari seluruh lapisan masyarakat.
Pencegahan karhutla tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau aparat, tetapi membutuhkan peran aktif masyarakat dalam menjaga lingkungan dan menghindari aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.
Petani Diingatkan Tidak Membuka Lahan dengan Cara Membakar
Selain mengajak masyarakat memperkuat kepedulian lingkungan, Tasming Hamid secara khusus mengingatkan para petani agar tidak membuka lahan dengan cara membakar.
Praktik pembukaan lahan menggunakan api dapat menjadi persoalan serius ketika kondisi lingkungan sedang kering. Api yang awalnya digunakan untuk membersihkan lahan berpotensi sulit dikendalikan dan merambat ke area lain.
Karena itu, pemerintah mengimbau masyarakat untuk memilih cara yang lebih aman dalam mengelola lahan, sekaligus ikut menjaga kawasan hutan dan lingkungan sekitar.
“Kita juga mengingatkan kepada petani agar jangan membuka lahan dengan cara membakar. Mari kita bersama-sama menjaga dan merawat hutan kita,” tutup H. Tasming Hamid, S.H., M.H.
Pelaksanaan Shalat Istisqa di Parepare diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat kebersamaan antara pemerintah dan masyarakat dalam menghadapi kemarau panjang.
Di sisi lain, pesan mengenai pencegahan karhutla menjadi pengingat bahwa kondisi lingkungan membutuhkan perhatian bersama. Doa dan ikhtiar berjalan beriringan, sementara kepedulian masyarakat menjadi salah satu kunci untuk mengurangi risiko kebakaran selama musim kering.
Dengan keterlibatan pemerintah, aparat, pelajar, organisasi masyarakat, petani, serta seluruh elemen warga, upaya menjaga lingkungan di Kota Parepare diharapkan dapat dilakukan secara konsisten, terutama selama kondisi kemarau masih berlangsung.
